Proses ejakulasi berada di bawah pengaruh saraf
otonom. Asetilkolin berperan sepagai neurotransmiter ketika saraf
simpatis mengaktivasi kontraksi dari leher kandung kemih, vesikula
seminalis, dan vas deferens. Refleks ejakulasi berasal dari kontraksi
otot bulbokavernosus dan ischiokavernosus serta dikontrol oleh saraf
pudendus.
Singkatnya, ejakulasi terjadi karena mekanisme
refleks yang dicetuskan oleh rangsangan pada penis melalui saraf
sensorik pudendus yang terhubung dengan persarafan tulang belakang
(T12-L2) dan korteks sensorik (salah satu bagian otak).
Mengapa refleks ini dapat terjadi sebelum pria
tersebut menginginkannya? Penelitian terakhir mengemukakan bahwa
terdapat gangguan respon penis pada pria dengan ejakulasi dini.
Penelitian yang dilakukan oleh Xin dan kawan-kawan serta dimuat di
dalam J.Urol mengukur kadar sensorik penis menggunakan biothesiometry
pada pria dengan ED dan membandingkannya dengan kadar yang normal.
Pada pria tanpa ED, pengukuran kadar sensitivitas penis meningkat
seiring dengan bertambahnya usia. Namun pada pria dengan ED, justru
sensitivitas semakin menurun seiring dengan bertambahnya usia
(P<.001). Penelitian lanjutan mengemukakan bahwa pria dengan ED
memiliki sensitivitas lebih tinggi daripada pria tanpa ED.
Derajat Ejakulasi Dini
Ejakulasi dini dapat terbagi menjadi tiga derajat berdasarkan ringan-beratnya gangguan yang akan dijelaskan melalui tabel di bawah ini :
Ejakulasi dini dapat terbagi menjadi tiga derajat berdasarkan ringan-beratnya gangguan yang akan dijelaskan melalui tabel di bawah ini :
Derajat Ejakulasi Dini
|
Penjelasan
|
Ringan
|
Ejakulasi terjadi setelah beberapa kali gesekan
|
Sedang
|
Ejakulasi terjadi sesaat setelah penis masuk ke dalam vagina
|
Berat
|
Ejakulasi terjadi ketika penis menyentuh kelamin wanita bagian luar atau sebelum menyentuh kelamin wanita
|
Powered by : Foredi